- Kedudukan Demokrasi Rakyat dalam Kehidupan Bernegara
Menurut peristilahan komunis,
demokrasi rakyat adalah “bentuk khusus
demokrasi yang memenuhi fungsi diktatur proletar”. Bentuk
khusus ini tumbuh dan berkembang di Negara-negara Eropa Timur seperti Cekoslovakia,
Polandia, Hongaria, Rumania, Bulgaria serta Yugoslavia dan di Tiongkok. Menurut
Georgi Dimitrov, seorang tokoh yang pernah menjabat sebagai mentri Bulgaria,
demokrasi rakyat merupakan “Negara dalam masa transisi yang bertugas untuk
menjamin perkembangan negar kea rah sosialisme”.
Ciri-ciri
demokrasi rakyat berbentuk dua: a) Suatu wadah front persatuan (united front) yang merupakan landasan kerjasama
dari partai komunis dengan golongan-golongan lainnya dalam masyarakat dimana
partai komunis berperan sebagai penguasa; b) Pengunaan beberapa lembaga
pemerintahan dari Negara yang lama. Di R.R.C. gagasan demokrasi rakyat
dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Mao Tse Tung yang melancarkan gagasan
mengenai Demokrasi baru (New
Demokrasi). Front persatuan juga diakuinya sebagai wadah kerjasama partai
komunis cina yang dominan dengan beberapa partai kecil lainnya.
Pada akhir
tahun 1950-an kaum komunis meninjau kembali hubungan-hubungan dengan
Negara-negara baru di Asia dan Afrika yang telah mencapai kemerdekaan setelah
berakhirnya perang dunia II. Harapan kaum komunis bahwa di Negara-negara
jajahan perjuangan kemerdekaan, yang oleh meereka dinamakan “bourgeoius
democratic revolutions”, akan meluas menjadi revolusi proletar ternyata hampa
belaka sekalipun komunisme sebagai ideology mengalami kemajuan.
Pola
perebutan kekuasaan secara langsung, seperti yang di gariskan oleh
ajaran-ajaran Lenin dan ditegaskan kembali bulan februari 1948 ternyata gagal.
Kegagalan ini kemungkinan akan pecahnya revolusi proletara umumnya tidak besar.[1]
Menurut
Miriam Budiarjo, komunis tidak hanya merupakan system politik, tetapi juga
mencerminkan gaya hidup yang berdasrkan nilai-nilai teertentu, seperti gagasan
monoisme menolak adanya golongan-golongan; gagasan persatuan berakibat adanya
kesadaran mau dipaksa dan oposisi ditindas; gagasan menjadikan Negara sebagai
alat untuk mencapai komunisme; kekerasan dipandang sebagai alat yang sah.[2]
- Implikasi Demokrasi Rakyat dalam Kehidupan Bernegara
Ada perbedaan antara demokrasi sosialis dan demokrasi
komunis. Kaum sosialis tidak menginginkan demokrasi satu partai seperti kaum
komunis. Namun, kesamaanya adalah bahwa kaum sosialis juga menegaskan
pentingnya demokrasi ekonomi, ketika alat-alat produksi dan sumber-sumber
ekonomi tak boleh dikuasai sedikit orang dan Negara juga harus berperan dalam
mengatur ekonomi rakyatnya, mengontrol, dan membatasi peran swasta (kapitalis)
dalm perekonomian. Jadi dalam demokrasi sosialistik, alat-alat produksi
merupakan milik bersama. Maka interest
pribadi kemudian sama dengan interest
Negara. Akan tetapi, tak perlu partai politik hanya satu, untuk menciptakan
keseimbangan kekuatan dan menjamin kebebasan politik dan pluralism kebudayaan.
Sedangkan, dalam demokrasi komunis, dalam rangka memperkuat
dukungan masa untuk menghancurkan pengisanp lama, pimpinan partai
marxis-leninis atau marxis-maois yang sadar kelas membentuk dictator
proletariat. Demokrasi komunis dianggap sebagai demokrasi untuk mencapai
tingkatan yang teertingg. Demokrasi ini dibentuk berdasarkan undang-undang yang
mengawali tercapainya masyarakat tanpa kelas. Dengan kata lain, dalam demokrasi
realis, semua rakyat diajak, baik dalm proses perencanaan, pengaturan maupun
pelaksanaan yang bertujuan agar kepribadian rakyat dapat berkembang optimal.[3]
[1]
Mariam budiarjo. Dasar-dasar
ilmu politik (Jakarta: pt dian rakyat, 1977) hlm.89
[2]
Nur Rohim Yunus, Aktualisasi Demokrasi Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa
dan Bernegara, dalam Social Science Education Journal, Vol. 2 No. 2,
2015, h. 159
[3]
Nur Rohim Yunus, Aktualisasi Demokrasi Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa
dan Bernegara, dalam Social Science Education Journal, Vol. 2 No. 2,
2015, h. 159
Tidak ada komentar:
Posting Komentar